Hadirnya preparat baru guna mengatasi schizophrenia tak sekedar poten semata namun juga mampu meredam efek samping pada EPS dan AIMS.
PT Kalbe Farma baru-baru ini meluncurkan Lodopin, obat untuk terapi schizophrenia, di Hotel Aryaduta, Sabtu, 26 November 2005. Peluncuran obat tersebut disertai dengan seminar ilmiah mengenai penatalaksanaan schizoprenia dengan pembicara Prof. Dr. Sasanto Wibisono, SpKJ dari Bagian Psikiatrik RSCM/FKUI dan Dr. Stephen J. Cooper dari Queen's University Belfast serta dihadiri sekitar 100 profesional medis dibidang psikiatrik .
Zotepine merupakan preparat baru dari golongan atipikal yang diindikasikan untuk terapi farmakologi pasien schizophrenia. Dalam mekanisme kerjanya, golongan atipikal berbeda dengan tipikal. Obat-obat golongan tipikal, seperti obat generasi pertama, bekerja pada antagonis reseptor dopamine D2. Namun, golongan ini kurang efektif dalam mengobati negative symptom dan kognitif. Dari sisi keamanan dan tolerabilitas, obat yang bekerja pada reseptor antagonis dopamine berhubungan erat dengan efek samping yang signifikan, termasuk, EPS, tardive dyskinesia dan hyperprolactinemia. Blokade pada reseptor muscarinic kolinergik, menyebabkan terjadinya drowsiness, mulut kering, konstipasi, dan penglihatan buram. Sementara blokade pada reseptor alpha adrenergik menyebabkan hipotensi dan pening. Reaksi di antihistamin menyebabkan drowsinnes, penambahan berat badan, TD, NMS dan lain- lain
Efek-efek tersebut tidak terjadi pada zetopine, dari golongan atipikal. Dr. Stephen J. Cooper memaparkan sejumlah studi efikasi dan keamanan zotepine dibandingkan dengan obat antipsikotik lain yakni Chlorpromazine dan Haloperidol. Menurut Stephen J. Cooper, spesifikasi dari zotepine adalah preparat yang bekerja selektif pada reseptor D1 dan D2. Hal ini diyakini mampu mereduksi efek EPS pada penggunaan jenis obat lainnya. Juga bekerja selekif pada reseptor serotonin (5HT2A, 2C, 6 dan 7) serta pada antagonis H1 dan alpha 1 reseptor.
Sebuah studi yang diberi nama ZT 2001, membandingkan antara zotepine, chlorpromazine dan plasebo. Studi ini melibatkan 159 pasien schizoprenia dengan usia 18-65 tahun dan menggunakan metode random, double blind, selama 8 minggu. Studi yang dilakukan pada 17 pusat kesehatan di Belgia, Irlandia, Polandia dan Inggris ini bertujuan untuk mengukur tingkat perbaikan yang dialami oleh penderita schizophrenia akut baik dengan pemberian zotepine, chlorpromazine dan plasebo. Untuk menilai sejauh mana efikasi obat itu digunakan skor BPRS (Brief Psychiatric Rating Scale), SANS (Scale for Assesement of Negative Symptoms) dan CGI (Clinical Global Impression Scale).
Hasilnya, studi ini memperlihatkan bahwa zotepine secara signifikan lebih baik dibanding chlorpromazine dan plasebo dalam mengatasi episode akut dari schizophrenia. Pada skala BPRS tercatat LOCF (Last Observation Carried Forward) nampak terdapat perbaikan, berupa reduksi dari base line ke end point untuk zotepine (60,2 menjadi 43,4), chlorpromazine (56,9 menjadi 52,6) dan plasebo (57,9 menjadi 55,0). Zotepine terlihat mampu mengatasi negative symptoms. Sementara pada score EPSE, level zotepine sebanding dengan plasebo. Withdrawl yang dialami pasien lebih sedikit pada yang mendapat Zotepine dibanding dengan yang mendapat chlorpromazine dan plasebo. Meski demikian tercatat sejumlah laporan mengenai efek samping dari zotepine, antara lain gangguan tidur, penambahan berat badan (kenaikan bobot namun tidak drastis), mulut kering, astheia, tachycardia dan drowsiness.
Hasil yang sama juga diperlihatkan pada studi bertajuk ZT 2003 yang membandingkan Zotepine (150 – 300 mg) dengan Haloperidol (6 – 20 mg). Dengan partisipan sebanyak 126 orang, tetapi yang menyelesaikan studi hanya 55 orang, pada rentang waktu 8 minggu. Penilaian didasarkan pada skala BPRS, SANS, terjadinya EPS dan AIMS (Abnormal Involuntary Movement Scale), di mana base linenya adalah 0. Kemajuan yang diperoleh, tampak pada reduksi di skala BPRS, pada zotepine -17,0 sementara pada haloperidol -13,4. Sementara skala SANS menunjukkan, nilai zotepine adalah -23,8 dan haloperidol -15,1. Pada efek samping EPS, tercatat zotepine -0,34 dan haloperidol +2,32. sementara pada AIMS, zotepine -1,3 dan haloperidol +0,65.
"Zotepine cepat diabsorbsi setelah pemberian per oral, 2 – 3 jam. Dan paruh waktu yang panjang sekitar 14 jam. Zotepine direkomendasikan menjadi lini pertama pada kasus baru schizoprenia yang ditemukan, bersama obat antipsikotik lainnya, seperti olanzapine dan risperidone. Zotepine dapat digunakan guna mengatasi gejala positif. Keamanan obat ini setara dengan golongan atipikal lainya. Sementara efek menimbulkan pertambahan bobot badan masih dapat ditoleransi. Dosis yang direkomendasikan adalah 150-200 mg/ hari. Titrasi dosis dibutuhkan guna mencegah over sedasi," jelas Cooper.
Dalam paparannya, Prof. Dr. Sasanto Wibisono SpKJ menegaskan kriteria-kriteria yang diharapkan dari agen antipsikotik yang baru. Menurutnya, antipsikotik yang baru, harus efektif dalam penggunaan parsial dan bagi yang kurang merespon obat. Efektif dalam meredam gejala negatif, meredam efek afeksi, mencegah hasrat bunuh diri, efektif melawan disfungsi kognisi. Mengurangi sisi akut dan kronis pada efek samping yang ditimbulkannya, sederhana dalam permasalahan, meningkatkan kualitas hidup, memfasilitasi integrasi psikososial, hemat secara ekonomis dan formulasi yang adekuat. (Ani)