Dokter barangkali perlu lebih waspada dan lebih teliti dalam melihat indikasi penyakit hati pada anak. Sebab sebuah penelitian baru menemukan bahwa penyakit hati pada anak sering kali tak terdeteksi.
Tes yang mencari aktivitas serum aminotransferease alanine (ALT) dirancang untuk mendeteksi adanya penyakit hati atau kelainan yang disebabkan oleh obat. Namun, tiap dokter berbeda dalam memberikan penilaian atas level tes yang dianggap sebagai tanda adanya masalah. Dan karena itu pula, mereka sering salah menafsirkan hasil tes yang digunakan untuk mendeteksi penyakit hati kronis pada anak-anak.
Dalam penelitiannya, Dr. Jeffrey Schwimmer, profesor pediatrik di University of California, San Diego, School of Medicine dan direktur Lemak Hati Rady Clinic di Children's Hospital, San Diego menemukan ada interpretasi yang bervariasi di antara berbagai rumah sakit dalam nilai ALT yang tak dapat mereka sesuaikan secara biologis. Artinya, anak yang diidentifikasi dengan penyakit hati di salah satu rumah sakit akan tak terdeteksi di tempat lain.
Para peneliti melaporkan bahwa level normal atas untuk anak perempuan adalah 22 dan untuk anak laki-laki, 25. Namun, dokter biasanya memikirkan level normal atas lebih dari dua kali. Hal ini menurut mereka menunjukkan bahwa banyak kasus penyakit hati kronis yang tidak terjawab.
Temuan tersebut menurut Schwimmer relevan teradap lebih dari 25 juta anak di Amerika Serikat. "Bayangkan seorang dokter anak yang melakukan skrining penyakit hati seorang anak berdasarkan guideline saat ini, tetapi tak pernah tahu bahwa anak tersebut benar-benar mengidap penyakit hati karena sistem elektronik medis di laboratorium tidak memberikan tanda akibat nilai ambang batas ALT yang salah." Temuan ini telah diterbitkan dalam jurnal Gastroenterology edisi April