Fetal alcohol spectrum disorder (FASD) bisa diartikan sebagai gangguan perkembangan janin akibat sang ibu mengonsumsi alkohol selama kehamilan. Anak-anak dengan FASD biasanya mengalami berbagai gangguan kesehatan, salah satunya epilepsi. Studi terbaru menemukan prevalensi epilepsi atau riwayat kejang yang jauh lebih tinggi pada individu dengan FASD.
Selama ini hanya sedikit penelitian yang mengaitkan kejang dan epilepsi dengan FASD. Pada penelitian yang rencananya akan dipublikasikan pada Alcoholism: Clinical & Experimental Research, Juni 2010 nanti, Peter Carlen, neurologis dan ilmuwan senior dari Toronto Western Hospital, yang bertindak sebagai salah satu peneliti mengatakan bahwa banyak penderita epilepsi memiliki riwayat paparan saat prenatal. Paparn yang dimaksud di antaranya alkohol.
Selain itu, ditemukan adanya tumpang tindih yang signifikan pada struktur otak terutama di area hipokampus, akibat paparan alkohol kronik saat prenatal yang terkait dengan kejang. Temuan lain, studi-studi terdahulu gagal menemukan komplikasi yang terjadi pada ibu peminum alcohol selama hamil, misalnya efek minum terhadap kejang. Selain itu studi hanya menggunakan sampel yang kecil.
Dalam penelitian terbaru, peneliti melihat riwayat 425 orang (254 laki-laki, 171 perempuan), berusia dua hingga 49 tahun, dari dua klinik FASD. Hubungan antara FASD dengan faktor risiko lain seperti paparan alcohol dengan obat-obatan lain, tipe kelahiran, dan trauma, diperiksa untuk menentukan epilepsi atau riwayat kejang berulang.
Hasil studi penunjukkan, prevalensi epilepsi dan kejang jauh lebih tinggi pada individu yang didiagnosis FASD. Pada populasi umum, epilepsi diperkirakan hanya menimpa kurang dari 1%tetapi pada penderita FASD, epilepsi meningkat hinggai 6% dan 12% mengalami paling tidak satu hingga dua kali kejang dalam hidupnya. Subyek cenderung semakin memiliki epileps, atau riwayat kejang, jika paparanalkohol diterima saat trimester pertama atau selama masa kehamilan.